Jakarta, FTIK News (04/07/2026) – Program Studi Geografi Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan (FTIK) Institut Teknologi PLN kembali menyelenggarakan Geography Seminar Series ke-2 dengan mengusung tema “Dari Data ke Daya: Optimalisasi Energi melalui Teknologi Geospasial.” Kegiatan ini dilaksanakan secara luring di Ruang Pembangkit Lantai 2 serta daring melalui platform Zoom dan YouTube, dan diikuti oleh sekitar 180 peserta yang terdiri dari mahasiswa, praktisi PLN, peneliti BRIN, dosen, karyawan, serta masyarakat umum.
Seminar ini menghadirkan empat narasumber kompeten di bidang teknologi geospasial, yaitu Himmel Sihombing, S.T., M.Sc. (General Manager UIT JBB), Dr. Bono Pranoto, S.T., M.T. (Peneliti Ahli Madya BRIN), Sondang Riski Wanti Sihombing (Praktisi GPS Land), serta Widya Soviana, S.T., M.Si., IPM (akademisi dan profesional kebencanaan). Acara dipandu oleh Yetti Anita Sari, S.Si., M.Sc., dosen Program Studi Geografi FTIK.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Rektor Institut Teknologi PLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, M.K., M.T., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi geospasial dalam mendukung pengembangan energi berkelanjutan di Indonesia.
Paparan materi diawali oleh Himmel Sihombing yang membahas pemanfaatan teknologi geospasial dalam mendukung implementasi Smart Grid PLN. Ia menyoroti bagaimana teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan aset, meningkatkan visibilitas sistem, serta membantu dalam manajemen risiko. Selanjutnya, Dr. Bono Pranoto menjelaskan secara mendalam peran penginderaan jauh dalam mengidentifikasi dan memetakan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia sebagai langkah strategis menuju transisi energi.
Sesi berikutnya diisi oleh Sondang Riski Wanti Sihombing yang memaparkan integrasi teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging) dan Terrestrial Laser Scanner (TLS) menggunakan perangkat mutakhir seperti DJI M400 dan Trimble SX12 dalam kegiatan survei dan pemetaan. Sementara itu, Widya Soviana memberikan perspektif kritis terkait pentingnya ketahanan energi dalam manajemen bencana, dengan mengacu pada kasus banjir dan longsor di Aceh pada November 2025.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, baik secara langsung maupun melalui platform daring. Diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan tingginya minat terhadap pemanfaatan teknologi geospasial dalam mendukung sektor energi, khususnya energi baru terbarukan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta wawasan baru serta kolaborasi lintas sektor dalam mengoptimalkan peran teknologi geospasial untuk mendukung pembangunan energi yang berkelanjutan di Indonesia.